7 Pertanyaan yang Boleh Kamu Ajukan ke Pewawancara (dan yang Sebaiknya Dihindari)
Saat pewawancara bertanya "Ada pertanyaan?", jangan jawab "Tidak ada". Ini 7 pertanyaan cerdas yang menunjukkan kamu serius — plus pertanyaan yang sebaiknya tidak kamu ajukan.

Hampir setiap interview ditutup dengan pertanyaan yang sama: "Apakah ada yang ingin kamu tanyakan?" Banyak pelamar menjawab "Tidak ada, sudah cukup jelas" — padahal jawaban itu justru menyia-nyiakan kesempatan terakhir untuk menunjukkan keseriusanmu.
Pewawancara menilai pertanyaanmu sama seriusnya dengan jawabanmu. Pertanyaan yang bagus menunjukkan kamu sudah riset, memahami pekerjaan yang dilamar, dan berpikir jangka panjang. Sebaliknya, tidak bertanya sama sekali bisa dibaca sebagai kurangnya minat. Artikel ini memberimu 7 pertanyaan yang aman dan cerdas untuk diajukan, plus pertanyaan yang sebaiknya dihindari.
Kenapa Kamu Harus Bertanya?
Interview bukan interogasi satu arah — ini percakapan dua arah untuk memastikan kecocokan. Perusahaan menilaimu, dan kamu pun berhak menilai perusahaan. Bertanya menunjukkan tiga hal: kamu antusias terhadap posisi itu, kamu berpikir kritis, dan kamu peduli dengan tempat kerjamu berikutnya, bukan sekadar "yang penting diterima".
Selain itu, jawaban atas pertanyaanmu adalah informasi berharga untuk keputusanmu sendiri. Gaji boleh menarik, tapi tugas harian yang tidak sesuai ekspektasi bisa membuatmu resign dalam tiga bulan. Lebih baik tahu sejak interview daripada menyesal setelah tanda tangan kontrak.
7 Pertanyaan Cerdas untuk Pewawancara
1. "Seperti apa gambaran tugas harian untuk posisi ini?"
Pertanyaan ini membantumu memahami pekerjaan sesungguhnya, bukan hanya deskripsi di iklan lowongan. Kamu akan tahu porsi pekerjaan rutin, proyek khusus, dan siapa saja yang akan sering berinteraksi denganmu.
2. "Bagaimana perusahaan mengukur keberhasilan seseorang di posisi ini dalam 3–6 bulan pertama?"
Pertanyaan ini menunjukkan orientasi hasil. Jawabannya juga memberimu gambaran target yang realistis — apakah ekspektasinya masuk akal atau justru mustahil dicapai.
3. "Dengan tim seperti apa saya akan bekerja?"
Kamu akan bekerja dengan manusia, bukan hanya job description. Mengetahui ukuran tim, gaya kerja atasan, dan budaya kolaborasinya membantumu membayangkan kehidupan kerjamu sehari-hari.
4. "Apa tantangan terbesar yang dihadapi tim ini saat ini?"
Pertanyaan ini menunjukkan kedewasaan. Kamu tidak hanya bertanya soal keuntungan, tapi juga soal masalah yang harus diselesaikan. Pewawancara biasanya menghargai kandidat yang berani membahas tantangan.
5. "Bagaimana peluang pengembangan dan jenjang karier untuk posisi ini?"
Ini penting terutama bagi fresh graduate. Perusahaan yang baik punya jalur pengembangan yang jelas — pelatihan, mentoring, atau promosi berdasarkan kinerja. Bila jawabannya kabur, itu juga informasi berharga untukmu.
6. "Apa yang membuat karyawan betah bekerja di sini?"
Pertanyaan ini membuka jawaban yang jujur tentang budaya perusahaan. Perhatikan apakah pewawancara menjawab dengan antusias dan contoh konkret, atau sekadar mengulang jargon perusahaan.
7. "Apa tahapan selanjutnya dari proses rekrutmen ini, dan kapan saya bisa mengharapkan kabar?"
Selalu tutup dengan pertanyaan ini. Ia menunjukkan profesionalisme, memberimu kepastian jadwal, dan memberimu alasan yang sah untuk menindaklanjuti bila kabar tak kunjung datang.
Kamu tidak perlu mengajukan ketujuhnya — pilih 2–3 yang paling relevan dengan situasimu. Kualitas pertanyaan jauh lebih penting daripada jumlahnya.
Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari
Tidak semua rasa penasaran layak diucapkan di interview. Hindari pertanyaan-pertanyaan berikut, terutama di tahap awal:
- "Berapa gajinya?" di menit-menit pertama. Gaji memang penting, tapi menanyakannya sebelum perusahaan menjelaskan posisi bisa memberi kesan kamu hanya peduli uang. Tunggu sampai pewawancara membuka topik kompensasi, atau bahas di tahap akhir proses.
- Pertanyaan yang jawabannya sudah jelas di iklan lowongan. Misalnya menanyakan lokasi kerja padahal sudah tertulis di lowongan. Ini memberi kesan kamu tidak membaca dengan teliti.
- "Apakah boleh sering cuti atau bekerja dari rumah?" di interview pertama. Pertanyaan soal fleksibilitas sebaiknya diajukan setelah kamu memahami tuntutan pekerjaan — atau setelah tawaran kerja datang.
- Pertanyaan pribadi tentang pewawancara. Jaga percakapan tetap profesional dan relevan dengan pekerjaan.
- "Seberapa cepat saya bisa naik jabatan?" Ambisi itu baik, tapi pertanyaan ini bisa terdengar seolah kamu sudah tidak sabar meninggalkan posisi yang dilamar.
Aturan praktisnya: bila pertanyaan itu membuatmu terlihat tidak tertarik pada pekerjaan itu sendiri, simpan untuk nanti — atau jangan ajukan sama sekali.
Tips Menyampaikan Pertanyaanmu
Cara menyampaikan sama pentingnya dengan isi pertanyaan. Perhatikan hal-hal berikut:
- Siapkan pertanyaan sebelum interview. Tulis 3–4 pertanyaan di catatan kecil dan bawa. Pewawancara tidak akan menganggapmu tidak siap karena membaca catatan — justru sebaliknya.
- Dengarkan dulu jawabannya. Jangan mengajukan pertanyaan berikutnya sambil sibuk memikirkan pertanyaanmu sendiri. Tanggapi jawaban pewawancara dengan singkat sebelum melanjutkan.
- Sesuaikan dengan alur percakapan. Bila pewawancara sudah menjelaskan budaya tim panjang lebar, jangan menanyakan hal yang sama lagi. Pilih pertanyaan lain dari daftar siapanmu.
- Akhiri dengan terima kasih. Tutup sesi tanya jawab dengan ucapan terima kasih atas waktu dan kesempatan — kesan terakhir sama pentingnya dengan kesan pertama.
Penutup: Pertanyaanmu adalah Kesempatan Terakhirmu
Saat pewawancara bertanya "Ada pertanyaan?", sesungguhnya mereka memberimu panggung terakhir untuk bersinar. Gunakan dengan mengajukan pertanyaan yang menunjukkan riset, keseriusan, dan pemikiran jangka panjang — bukan dengan jawaban "tidak ada".
Latih pertanyaan-pertanyaan ini sebelum interview berikutnya, dan padukan dengan persiapan jawaban yang matang. Kalau kamu sedang mencari lowongan untuk dilamar dan dilatih, jelajahi lowongan terbaru di hiloker.com/jobs — dan hadapi interview berikutnya dengan jauh lebih percaya diri.