CPNSSoal TIU Deret Huruf: Lima Pola yang Paling Sering Keluar
Deret huruf cuma terlihat acak selama alfabetnya masih dibaca sebagai huruf. Ini lima pola yang berulang tiap tahun, plus cara menghitung cepatnya.
A
AuthorOct 12, 2026•4 min read
Langkah pertama: ubah huruf jadi angka
Deret huruf terlihat acak hanya kalau alfabetnya masih dibaca sebagai huruf. Begitu A jadi 1, B jadi 2, sampai Z jadi 26, soalnya berubah jadi deret angka biasa. Di ruang ujian kamu biasanya dapat kertas buram dan pensil. Tulis alfabet bernomor satu kali di awal, A sampai M di baris pertama dan N sampai Z di baris kedua. Sekali menulis itu menghemat puluhan detik sepanjang subtes.
Satu hal yang sering bikin salah: lompatan dari Z kembali ke A tetap dihitung sebagai penambahan. Dari Y ke C berarti tambah 5, bukan mundur 21.
Pola 1: lompatan tetap
Bentuk paling sering, misalnya A, D, G, J. Selisihnya 3, jadi jawabannya M. Variasi lain memakai lompatan 4 atau 5, seperti C, G, K, O yang berlanjut ke S. Kalau selisih antar huruf sama dari awal sampai akhir, kamu cuma perlu menambahkan angka itu sekali lagi.
Pola 2: lompatan yang bertambah
Di sinilah jebakannya. B, D, G, K, P bukan lompatan tetap. Selisihnya 2, lalu 3, lalu 4, lalu 5. Jadi huruf berikutnya 6 langkah setelah P, yaitu V. Peserta yang buru-buru mengambil selisih dua huruf pertama lalu salah total. Urutan yang aman: coba dulu selisih tetap di tiga pasang pertama. Kalau tidak konsisten, langsung periksa apakah selisihnya bertambah atau justru berlipat.
Pola 3: dua deret berselang-seling
Contoh: A, B, E, D, I, F, M, H. Ini sebenarnya dua deret terpisah. Posisi ganjil berisi A, E, I, M dengan lompatan 4, jadi berikutnya Q. Posisi genap berisi B, D, F, H dengan lompatan 2, jadi berikutnya J. Kalau deret terasa kacau, tandai posisi 1, 3, 5, 7 lalu baca ulang. Biasanya polanya langsung kelihatan.
Pola 4: maju dari depan, mundur dari belakang
Contoh: A, Z, C, X, E, V. Huruf pada posisi ganjil maju dua langkah dari A, huruf pada posisi genap mundur dua langkah dari Z. Urutannya berlanjut ke G. Pola ini biasanya dikemas dalam pasangan karena terlihat lebih rumit daripada sebenarnya.
Pola 5: huruf digabung angka
Bentuk terakhir: A1, C3, F6, J10, O15. Pisahkan dua bagiannya. Hurufnya A, C, F, J, O dengan selisih 2, 3, 4, 5, jadi berikutnya 6 langkah setelah O, yaitu U. Angkanya 1, 3, 6, 10, 15 dengan selisih yang sama, jadi berikutnya 21. Jawabannya U21. Pada tipe ini kerjakan huruf dan angkanya terpisah, karena mencampur keduanya dalam satu hitungan hampir selalu berakhir kacau.
Urutan pengecekan saat mentok
Kalau pola belum ketemu di 30 detik pertama, jalankan urutan ini. Hitung selisih antar huruf secara berurutan. Kalau tidak tetap, lihat apakah selisihnya bertambah atau berlipat. Kalau masih mentok, pisahkan posisi ganjil dan genap. Kalau tetap tidak ketemu, baca deretnya dari belakang, kadang polanya justru jelas kalau dibalik. Urutan tetap lebih cepat daripada mencoba pola secara acak.
Satu contoh lengkap dengan hitungannya
Ambil deret D, F, I, N, V. Menit pertama biasanya habis untuk mencoba selisih tetap 2, yang langsung gagal di pasangan kedua. Cek selisihnya: 2, 3, 5, 8. Angka itu bukan deret aritmetika, tapi setiap angka setelah yang kedua adalah jumlah dua angka sebelumnya, seperti pola Fibonacci. Jadi lompatan berikutnya 13. V ditambah 13 berputar menjadi I, karena 22 ditambah 13 sama dengan 35, dan 35 dikurangi 26 sama dengan 9. Jawabannya I. Soal seperti ini wajar diselesaikan dalam 70 detik, sudah termasuk satu jalur buntu di awal.
Kesalahan yang mengulang tiap tahun
Pertama, menganggap semua deret berselisih tetap. Kedua, lupa bahwa Z berputar ke A. Ketiga, tidak memisahkan deret berselang-seling. Keempat, menghabiskan tiga menit di satu soal, padahal soal berikutnya lebih mudah. Batas wajar satu soal deret adalah 60 detik. Lewat dari itu, tandai dan lanjut.
Cara berlatih cepat
Ambil satu tipe pola, buat sendiri lima deret dengan pola itu, lalu lanjut ke pola lain. Membuat soal jauh lebih efektif daripada mengerjakan soal yang sudah ada, karena kamu dipaksa melihat strukturnya, bukan mencocokkan kunci. Delapan sampai sepuluh soal per tipe biasanya cukup membuat polanya jadi refleks.