Analogi TIU bukan ujian kosakata. Yang dicari hubungan antara dua kata, dan hubungan itu harus berlaku sama di pasangan jawaban. Ini polanya plus contoh soal.

Banyak peserta SKD merasa kosakatanya sudah cukup, lalu tetap kehilangan poin di soal analogi. Masalahnya biasanya bukan perbendaharaan kata. Analogi menguji kemampuan membaca hubungan antara dua kata, dan hubungan itu harus berlaku sama di pasangan jawabannya.
Formatnya selalu A : B = C : D, dengan D sebagai jawaban. Kamu tidak diminta memilih kata yang paling bagus, hanya pasangan yang hubungannya sejenis dengan pasangan pertama. Karena itu dua peserta bisa punya alasan berbeda dan sama-sama merasa benar, sementara jawaban yang diterima cuma satu.
Trik yang paling tahan banting: rangkai pasangan pertama jadi kalimat pendek, lalu uji setiap opsi dengan kalimat yang sama. Misal KURSUS : KETERAMPILAN, kalimatnya "kursus menghasilkan keterampilan". Opsi yang tidak bisa masuk ke kalimat itu langsung gugur, sekalipun katanya terdengar nyambung.
Kalimat tadi juga menjaga arah. Banyak peserta salah karena membalik urutan dan menganggap LEBAH : MADU sama dengan MADU : LEBAH. Dua-duanya berkaitan, tapi arah hubungannya berbeda, dan pasangan yang terbalik tetap dihitung salah walau logikanya masuk akal.
Dari soal SKD beberapa tahun terakhir, ada sekumpulan hubungan yang terus berulang:
Kalau kamu bisa menamai hubungannya dengan salah satu label di atas, peluang memilih jawaban benar naik banyak. Kalau hubungannya tidak bisa diringkas jadi satu kalimat, biasanya kamu belum membacanya cukup teliti.
GURU : SEKOLAH = ...
Jawabannya A. Hubungannya orang dan tempat kerja utamanya, dan urutannya sama: subjek lalu tempat. Opsi B, C, dan E memasangkan orang dengan alat. Opsi D memasangkan orang dengan hasil karyanya. Ketiganya hubungan yang sah, hanya saja jenisnya beda dari pasangan pertama. Di sinilah peserta sering kalah: memilih opsi yang "berhubungan" tanpa memeriksa apakah jenis hubungannya cocok.
RINGAN : BERAT = ...
Semua opsi isinya antonim bertingkat, jadi kelimanya terasa benar. Di soal seperti ini kamu perlu mencari perbedaan yang lebih halus antar opsi. Perhatikan bahwa RINGAN dan BERAT sama-sama menggambarkan bobot. Kalau ada opsi yang pasangannya satu dimensi pengukuran, itulah jawabannya. Semua opsi di atas satu dimensi juga, sehingga soal seperti ini jarang muncul dalam bentuk sesederhana itu.
Yang lebih sering keluar adalah variasi dengan jarak makna. Contohnya RINGAN : BERAT = DINGIN : ... dengan opsi PANAS, HANGAT, dan SEJUK. Jawabannya PANAS, karena pasangan pertama menggambarkan dua kutub ekstrem, bukan tingkat menengah. Di situ baru terlihat mana peserta yang benar-benar membaca hubungan dan mana yang cuma mengandalkan kesan.
Pertama, urutan yang dibalik. Kalau pasangan pertama adalah sebab lalu akibat, pasangan jawaban harus sama, bukan akibat lalu sebab. Kedua, terjebak kata yang sama familinya. Pasangan yang temanya sama belum tentu hubungannya sama, dan soal memang sering sengaja memasang opsi seperti itu untuk mengecoh.
Ketiga, mengabaikan jenis kata. Kalau pasangan pertama dua kata benda, jawaban yang benar umumnya juga dua kata benda. Opsi yang mencampur kata kerja terasa janggal begitu dibaca ulang, dan biasanya itu memang bukan jawabannya.
Kerjakan analogi dalam blok, misal 30 soal sekaligus, lalu catat setiap soal yang salah beserta jenis hubungannya. Setelah beberapa sesi kamu akan sadar pola mana yang paling sering kamu lewatkan. Umumnya cuma dua atau tiga jenis, dan begitu itu ketahuan, kecepatanmu naik sendiri.
Soal TIU punya porsi waktu paling ketat di SKD, sekitar 35 menit untuk 35 soal, jadi kecepatan membaca sama pentingnya dengan ketelitian. Kalau ingin gambaran materi TIU secara keseluruhan, ada di pembahasan soal TIU CPNS. Untuk strategi membagi waktunya, baca cara mengerjakan TIU dalam 35 menit.