Perusahaan Jepang dan Korea punya budaya kerja yang unik. Sebelum daftar, kenali dulu apa yang bakal kamu hadapi supaya tidak kaget.

Banyak pencari kerja di Indonesia yang punya impian masuk ke perusahaan multinasional asal Jepang atau Korea — sebut saja Toyota, Samsung, Panasonic, LG, atau Astra sebagai mitra lokalnya. Tapi sebelum kirim CV, ada baiknya kamu kenalan dulu sama budaya kerja mereka yang cukup khas dan tidak selalu sama dengan perusahaan lokal maupun Barat.
Hal pertama yang langsung terasa kalau kamu masuk ke perusahaan Jepang atau Korea adalah struktur hierarki yang kuat. Senioritas dihargai tinggi — baik dari sisi usia maupun lama bekerja. Kamu tidak akan serta-merta bisa langsung usul besar di rapat kalau baru masuk seminggu, dan itu bukan hal yang aneh.
Di perusahaan Jepang, ada konsep yang disebut nemawashi — artinya kira-kira "membangun konsensus sebelum keputusan resmi dibuat." Jadi kalau kamu punya ide, jalurnya bukan langsung teriak di rapat, tapi ngobrol dulu dengan rekan dan atasan secara informal. Ini yang bikin prosesnya terasa lebih lambat dibanding startup, tapi hasilnya biasanya lebih solid karena semua pihak sudah buy-in.
Di perusahaan Korea, atmosfernya sedikit lebih kompetitif. Ada budaya yang disebut nunchi — kemampuan membaca situasi dan perasaan orang lain tanpa mereka harus bilang secara eksplisit. Kalau atasan kamu terlihat sibuk, kamu tahu sendiri bukan waktu yang tepat untuk tanya hal sepele.
Ini yang paling sering jadi topik obrolan. Perusahaan Jepang dan Korea memang punya reputasi jam kerja panjang. Tapi perlu dicatat: itu sangat tergantung divisi, posisi, dan kebijakan cabang lokal di Indonesia.
Banyak perusahaan Jepang di Indonesia, terutama yang sudah besar dan mapan, sudah mulai menyesuaikan standar kerja dengan regulasi tenaga kerja Indonesia. Lembur tetap ada, terutama menjelang deadline atau audit, tapi tidak semua divisi rutin kerja sampai malam.
Yang lebih penting dicermati adalah ekspektasi tidak tertulis — misalnya, apakah kamu diharapkan hadir sebelum jam masuk, atau apakah pulang tepat waktu dianggap "tidak dedicated." Tanyakan soal ini saat interview atau saat onboarding, karena ini ngaruh ke quality of life kamu secara nyata.
Kemampuan bahasa Jepang atau Korea jelas jadi nilai plus besar — bahkan di beberapa posisi jadi syarat wajib, terutama yang berhubungan langsung dengan tim dari kantor pusat. Kalau kamu punya sertifikasi JLPT N3 ke atas atau TOPIK level menengah, itu bisa jadi pembeda yang signifikan di antara kandidat lain.
Tapi buat posisi teknis atau support, kemampuan bahasa Inggris yang solid sudah cukup untuk komunikasi dengan tim regional. Bahasa Jepang/Korea jadi bonus yang mempercepat karir, bukan selalu gerbang masuk.
Selain bahasa, sikap kerja seperti teliti, disiplin, dan orientasi terhadap kualitas sangat dihargai. Budaya kaizen — perbaikan terus-menerus — bukan cuma slogan di perusahaan Jepang, tapi benar-benar diterapkan di level operasional. Kamu yang punya mentalitas "selalu bisa lebih baik" akan lebih mudah adaptasi.
Rekrutmen di perusahaan Jepang cenderung panjang dan berlapis — bisa ada 3 sampai 5 tahap interview, termasuk tes psikologi, tes kemampuan bahasa, dan wawancara dengan berbagai level manajemen. Sabar adalah modal utama.
Perusahaan Korea umumnya lebih cepat prosesnya, tapi mereka sering minta aptitude test (semacam tes kemampuan umum) yang soal-soalnya bisa cukup intens. Samsung punya GSAT, LG punya L-TAB — kalau kamu incar posisi di sana, cari tahu format tes ini dan latihan sebelumnya.
Satu hal yang sering dilupakan: surat lamaran dan CV kamu harus rapi secara format. Perusahaan-perusahaan ini biasanya sangat memperhatikan detail presentasi dokumen — typo kecil atau format yang berantakan bisa jadi sinyal negatif di mata mereka.
Kerja di perusahaan Jepang atau Korea bukan untuk semua orang — dan itu bukan kekurangan. Kalau kamu suka lingkungan kerja yang terstruktur, menghargai proses, dan ingin belajar dari sistem kerja yang sudah teruji bertahun-tahun, ini bisa jadi tempat yang sangat bagus untuk berkembang.
Tapi kalau kamu lebih suka kultur yang flat, cepat berubah, dan bebas experiment, mungkin startup atau perusahaan Barat lebih cocok. Kenali diri sendiri dulu sebelum memutuskan — karena lingkungan kerja yang tidak sesuai karakter kamu akan menguras energi jauh lebih cepat dari beban kerja itu sendiri.
Yang pasti, kalau kamu memang tertarik dan siap adaptasi, peluang karir jangka panjang di perusahaan-perusahaan ini — termasuk kemungkinan penempatan di luar negeri — bisa sangat menarik.