Deret angka TIU bukan soal keberuntungan. Ada lima pola yang paling sering keluar, dan semuanya bisa dikenali lewat tabel selisih dalam waktu singkat.

Deret angka biasanya menyumbang sekitar lima soal dari 35 soal TIU, sementara waktunya cuma 35 menit untuk semuanya. Kalau satu deret saja kamu habiskan lebih dari satu menit, soal lain yang lebih mudah akan jadi korban.
Kabar baiknya, deret yang keluar di SKD hampir selalu berasal dari sekumpulan pola yang sama. Setelah polanya hafal, yang tersisa cuma aritmetika cepat.
Tulis deretnya, lalu hitung selisih antar suku berurutan. Kebanyakan deret langsung terbuka setelah dua baris selisih. Kalau selisih pertama belum membentuk pola, buat selisih kedua. Kalau masih buntu, baru pindah ke kemungkinan perkalian.
Urutan kerja ini lebih cepat daripada menebak. Saya dulu sering langsung menduga pola kali, padahal setelah selisihnya dihitung ternyata angkanya bertambah dengan kenaikan teratur.
Contoh: 2, 3, 5, 8, 12, 17, ...
Selisihnya 1, 2, 3, 4, 5. Selisih berikutnya 6, jadi jawabannya 17 + 6 = 23. Pola ini paling sering muncul. Variasinya bisa selisih naik dua (2, 4, 6, 8) atau selisih berupa deret bilangan kuadrat (1, 4, 9, 16).
Contoh: 4, 7, 13, 25, 49, ...
Setiap suku dikali 2 lalu dikurangi 1 menghasilkan suku berikutnya: 4 x 2 - 1 = 7, 7 x 2 - 1 = 13, dan seterusnya. Jawabannya 97. Variasi lain memakai pola kali 2 tambah 1 atau kali 3 tambah 2. Kalau angkanya melompat cukup jauh tapi tidak bulat sebagai kelipatan, curigai pola ini.
Contoh: 5, 10, 8, 13, 11, 16, ...
Ini sebenarnya dua deret yang digabung. Posisi ganjil: 5, 8, 11 (tambah 3). Posisi genap: 10, 13, 16 (tambah 3). Suku berikutnya ada di posisi ganjil, jadi 11 + 3 = 14. Kalau deret terasa naik turun tanpa arah, hampir pasti ini polanya.
Contoh: 2, 6, 12, 20, 30, ...
Selisihnya 4, 6, 8, 10, jadi selisih berikutnya 12 dan jawabannya 42. Setiap sukunya bentuk lain dari n dikali (n+1). Kalau angka deretnya pas di sekitar bilangan kuadrat seperti 1, 4, 9, 16, periksa juga kemungkinan ditambah atau dikurang angka tetap.
Contoh: 3, 6, 5, 10, 9, 18, ...
Operasinya bergantian: kali 2, kurang 1, kali 2, kurang 1. Suku berikutnya 17. Pola ini sering salah dikira deret bersisipan, padahal kalau dilihat per pasangan, hubungannya jelas.
Kerjakan 20 deret dengan batas 45 detik per soal, dan tulis selisihnya di kertas, bukan di kepala. Setelah beberapa sesi, kamu akan sadar pola mana yang paling sering kamu lewatkan. Rata-rata orang cuma punya dua titik lemah, dan begitu itu diperbaiki, kecepatannya naik sendiri.
Sisakan juga soal deret yang belum ketemu polanya ke akhir sesi. Satu soal deret nilainya sama dengan satu soal sinonim, tapi soal sinonim biasanya selesai dalam 15 detik.
Kalau dua menit berlalu dan polanya masih gelap, jangan ngotot. Lakukan tiga hal ini berurutan. Pertama, cek apakah deretnya bersisipan dengan memisahkan suku ganjil dan genap. Kedua, cek selisih tingkat dua. Ketiga, periksa pola kuadrat di sekitar angka terbesar.
Sesudah itu, tandai soal tersebut lalu lanjut. Satu deret sulit biasanya memang dirancang untuk menghabiskan waktu, dan nilainya sama dengan satu soal yang bisa kamu selesaikan dalam 20 detik.
Mengerjakan deret tanpa batas waktu melatih ketelitian, tapi tidak melatih keputusan. Padahal di SKD kamu lebih sering dituntut memutuskan: lanjut atau lewati. Pakai timer 45 detik per soal selama latihan, dan catat alasan kamu melewati sebuah soal. Setelah seminggu, keputusan itu jadi refleks, dan kamu berhenti menghabiskan waktu di deret yang bukan rezekimu.
Materi TIU lain seperti silogisme dan analitis ada di pembahasan soal TIU CPNS. Cara membagi waktu antar subtes ada di mengerjakan TIU dalam 35 menit, dan pola hubungan kata dibahas di soal TIU analogi.