CPNSSoal TIU Penalaran Logis: Modus Ponens dan Modus Tollens
Dua pola penalaran logis yang paling sering keluar di TIU, lengkap contoh soal dan pembahasan kenapa kesimpulannya sah atau tidak.
A
AuthorOct 5, 2026•4 min read
Tiga pola, dua yang sah
Soal penalaran logis di TIU hampir selalu berbentuk "jika ... maka ...". Dari bentuk itu, cuma ada dua cara menarik kesimpulan yang sah: modus ponens dan modus tollens. Dua pola lain yang kelihatan mirip justru tidak sah, dan itu yang jadi jebakan paling sering.
Kabar baiknya, jumlah soalnya terbatas dan polanya berulang. Sekali kamu paham cara membedakan yang sah dan yang tidak, soal seperti ini justru jadi soal cepat yang bisa menutup waktu untuk soal hitungan.
Modus ponens: dari sebab ke akibat
Kalau premis pertama menyatakan "jika p maka q", dan premis kedua menegaskan p, kesimpulannya q. Arah berpikirnya lurus mengikuti alur premis.
Jika karyawan datang terlambat, gajinya dipotong. Rina datang terlambat. Kesimpulan yang sah: gaji Rina dipotong.
Modus tollens: dari akibat yang gugur
Kalau premis kedua menegaskan bahwa q tidak terjadi, maka p juga tidak terjadi.
Jika berkas tidak lengkap, pendaftaran ditolak. Pendaftaran Andi tidak ditolak. Kesimpulan: berkas Andi lengkap. Perhatikan urutannya, kita membatalkan akibat lebih dulu, baru menyimpulkan sebabnya gugur. Urutan ini yang sering kebalik dan bikin jawaban salah.
Kontraposisi: versi setara dari pernyataan yang sama
Satu pernyataan "jika p maka q" punya versi setara yang disebut kontraposisi, yaitu "jika tidak q maka tidak p". Keduanya selalu punya nilai benar yang sama, jadi bisa dipakai kalau opsi jawaban tidak ditulis mengikuti bentuk asli soal.
Jika harga bahan bakar naik, biaya transportasi naik. Kontraposisinya: jika biaya transportasi tidak naik, harga bahan bakar tidak naik. Dua kalimat itu berisi hal yang sama, hanya dilihat dari sisi berbeda.
Yang perlu diwaspadai, bentuk konvers ("jika q maka p") dan invers ("jika tidak p maka tidak q") tidak setara dengan pernyataan aslinya. Ketiganya sengaja dipasang berdampingan di opsi jawaban untuk menguji ketelitian.
Jebakan 1: menegaskan akibat
Jika lulus SKD, peserta ikut SKB. Budi ikut SKB. Apakah Budi pasti lulus SKD?
Jawabannya tidak bisa disimpulkan. Ikut SKB memang mensyaratkan lulus SKD, tapi informasi yang kita punya tidak cukup untuk memastikan Budi lulus. Opsi jawaban yang berbunyi "Budi lulus SKD" itu salah, dan inilah inti jebakan menegaskan akibat.
Jebakan 2: menolak sebab
Jika mesin rusak, produksi berhenti. Mesin tidak rusak. Apakah produksi tetap jalan?
Belum tentu. Produksi bisa berhenti karena listrik mati, bahan baku habis, atau sebab lain. Kesimpulan yang sah hanya "tidak dapat disimpulkan". Menolak sebab tidak memberi kita hak menyimpulkan apa pun tentang akibatnya.
Soal dengan kata semua dan sebagian
Semua mahasiswa semester akhir sedang menyusun skripsi. Beberapa yang sedang menyusun skripsi sering ke perpustakaan. Kesimpulan yang tepat adalah ...
Jawabannya tidak dapat disimpulkan. Alasannya sederhana, "beberapa orang yang menyusun skripsi" belum tentu bagian dari mahasiswa semester akhir. Bisa jadi mereka mahasiswa yang mengulang mata kuliah dan menyusun skripsi lebih lambat. Opsi yang berbunyi "beberapa mahasiswa semester akhir sering ke perpustakaan" kedengaran logis, tapi tidak didukung premis.
Aturan praktisnya, kesimpulan tidak boleh memperluas apa yang sudah dikatakan premis. Kalau premis cuma bilang "sebagian", kesimpulan tidak boleh bilang "semua".
Contoh soal lengkap
Semua pegawai yang mengikuti pelatihan lulus sertifikasi. Beberapa pegawai yang lulus sertifikasi mendapat tunjangan. Kesimpulan yang tepat adalah ...
A. semua pegawai yang ikut pelatihan mendapat tunjangan
B. beberapa pegawai yang ikut pelatihan mendapat tunjangan
C. semua pegawai yang mendapat tunjangan ikut pelatihan
D. tidak ada pegawai yang ikut pelatihan tanpa tunjangan
E. pegawai yang tidak ikut pelatihan tidak mendapat tunjangan
Jawaban: B. Yang ikut pelatihan pasti lulus sertifikasi, tapi hanya sebagian dari yang lulus sertifikasi mendapat tunjangan. Artinya yang ikut pelatihan bisa dapat tunjangan, bisa juga tidak, jadi hanya kata "beberapa" yang aman. Opsi lain melompat terlalu jauh dan tidak didukung premis.
Cara mengerjakan cepat
Terjemahkan setiap premis jadi huruf dulu: p untuk sebab, q untuk akibat. Lalu cek premis kedua. Kalau menegaskan p, jawab dengan q. Kalau menolak q, jawab dengan tidak p. Kalau menegaskan q atau menolak p, jawab "tidak dapat disimpulkan".
Setelah itu baru lihat opsi jawaban, bukan sebelumnya. Membaca opsi lebih dulu bikin kamu menilai tiap pilihan pakai perasaan, dan di soal logika perasaan biasanya menang di opsi yang paling masuk akal sehari-hari, padahal salah secara aturan.