Soal TWK Bahasa Indonesia: Ejaan dan Tata Bahasa yang Paling Sering Diuji

Soal bahasa Indonesia di TWK bukan soal sastra. Yang diuji ejaan, kata baku, dan kalimat efektif. Ini materi yang paling sering keluar plus contoh soal dan pembahasannya.

Soal TWK Bahasa Indonesia: Ejaan dan Tata Bahasa yang Paling Sering Diuji

Bagian bahasa Indonesia di TWK sering diremehkan pelamar karena merasa berbahasa Indonesia sejak lahir. Justru di sini banyak yang kehilangan poin. Soalnya tidak menguji kemampuan menulis kreatif, tapi kepatuhan pada aturan resmi. Ejaan Yang Disempurnakan, kata baku, dan kalimat efektif.

Kabar baiknya, materi yang diujikan berulang dari tahun ke tahun. Kalau kamu menuntaskan beberapa pola, sebagian besar soal bisa dijawab tanpa menebak.

Empat materi yang paling sering muncul

Pertama, penulisan kata baku. Kamu akan diminta memilih mana yang benar antara aktif dan aktip, praktik dan praktek, atau analisis dan analisa. Kedua, penulisan huruf kapital, terutama pada nama jabatan, nama geografi, dan nama lembaga.

Ketiga, kalimat efektif. Soal ini menyajikan kalimat berbelit dan meminta kamu memilih versi yang paling ringkas tanpa mengubah maknanya. Keempat, penggunaan tanda baca, terutama koma sebelum kata penghubung dan titik dua pada perincian.

Belakangan, soal tentang kata serapan juga sering muncul. Kata seperti standarisasi dan standardisasi, atau metode dan metoda. Aturannya sederhana, bentuk baku mengikuti kaidah penyerapan, bukan bentuk yang paling sering dipakai orang di jalan.

Contoh soal pertama: kata baku

Pilihlah kata yang baku.

  • A. Aktifitas
  • B. Aktivitas
  • C. Aktipitas
  • D. Activitas
  • E. Aktifitas dan aktivitas sama-sama baku

Jawabannya B. Kata yang diserap dari bahasa asing dengan akhiran -ity diserap menjadi -itas, dan huruf f pada posisi itu berubah menjadi v. Jadi aktivitas dan bukan aktifitas. Kesalahan ini paling sering terjadi karena di lingkungan sehari-hari bentuk yang salah justru lebih sering dipakai.

Contoh soal kedua: kalimat efektif

Pilihlah kalimat yang paling efektif.

  • A. Para hadirin sekalian dipersilakan untuk dapat duduk kembali.
  • B. Hadirin dipersilakan duduk kembali.
  • C. Semua para hadirin diharapkan supaya duduk kembali.
  • D. Kepada para hadirin diharapkan agar duduk kembali.
  • E. Hadirin sekalian semuanya kami persilakan duduk kembali.

Jawabannya B. Pilihan lain mengandung pemborosan kata. Para sudah bermakna jamak, jadi sekalian dan semua para tidak perlu. Kata untuk dapat dan agar supaya juga berlebihan karena dipersilakan sudah mengandung makna izin.

Contoh soal ketiga: huruf kapital dan tanda baca

Manakah penulisan yang benar?

  • A. Presiden Republik Indonesia menghadiri KTT ASEAN di Jakarta.
  • B. presiden Republik indonesia menghadiri KTT Asean di jakarta.
  • C. Presiden republik Indonesia menghadiri Ktt ASEAN di Jakarta.
  • D. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA menghadiri KTT ASEAN di Jakarta.
  • E. presiden Republik Indonesia menghadiri Ktt Asean di Jakarta.

Jawabannya A. Nama jabatan yang diikuti nama lembaga ditulis dengan huruf kapital, nama negara dan kota juga kapital. Singkatan yang sudah lazim seperti ASEAN ditulis kapital seluruhnya, bukan Asean. Pilihan D salah karena menulis seluruhnya dengan kapital, padahal huruf kapital dipakai pada awal kata saja.

Kata serapan yang paling sering dijadikan soal

Selain kata baku, soal sering menyodorkan pasangan kata serapan. Aturannya mengikuti kaidah penyerapan, bukan kebiasaan sehari-hari. Beberapa pasangan yang berulang muncul, yaitu standardisasi bukan standarisasi, kreativitas bukan kreatifitas, analisis bukan analisa, dan objek bukan obyek. Untuk kata dengan akhiran asing seperti -ization atau -ity, bentuk bakunya selalu memakai s dan itas.

Nama jabatan dan lembaga juga kerap keluar. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ditulis dengan kapital pada setiap awal kata karena merupakan nama lembaga lengkap. Sebaliknya, kalimat seperti ia menjabat sebagai kepala daerah hanya memakai kapital pada nama orangnya, bukan pada jabatan yang berdiri sendiri.

Cara belajar yang hemat waktu

Jangan menghafal seluruh buku pedoman ejaan. Cukup kumpulkan daftar kata baku yang paling sering keluar, biasanya sekitar 50 sampai 100 pasang kata, lalu ulangi setiap dua hari. Cara mengulangnya bisa sederhana, tulis sepuluh kata salah di satu kolom, tulis bentuk benarnya di kolom sebelah tanpa melihat catatan, lalu cek.

Untuk kalimat efektif, latih kebiasaan mencoret kata yang bisa hilang tanpa mengubah makna. Kata adalah, merupakan, untuk dapat, dan agar supaya hampir selalu bisa dihapus tanpa merusak arti. Semakin ringkas sebuah opsi, semakin besar peluangnya menjadi jawaban benar.

Untuk tanda baca, fokus pada tiga hal saja. Koma dipakai sebelum kata penghubung seperti tetapi, sedangkan, dan melainkan pada kalimat majemuk. Titik dua dipakai sebelum perincian dan tidak boleh digandakan dengan kata yaitu. Tanda hubung dipakai untuk mengulang kata, seperti buku-buku, dan juga untuk merangkai kata ulang.

Strategi saat mengerjakan soal

Baca seluruh opsi dulu sebelum memilih. Banyak opsi dibuat mirip dengan satu perbedaan kecil, dan perbedaan itu justru inti soalnya. Kalau ragu, pilih opsi yang paling sederhana susunannya. Soal kalimat efektif hampir selalu menjawab dengan opsi paling ringkas, sementara soal kata baku menuntut kamu mengingat bentuk bakunya dan tidak bisa ditebak dari bunyi.

Sisihkan waktu paling banyak satu menit per soal bahasa Indonesia. Kalau lebih dari itu, tandai dan lanjutkan. Bagian ini biasanya tidak sebanyak bagian Pancasila atau sejarah, tapi karena terasa mudah, banyak pelamar mengerjakannya terlalu santai lalu kehabisan waktu untuk soal lain.